قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ ـــــ أبو نعيم
"Rasulullah
Shallallahu Alahi Wasallam bersabda, yang artinya,”Barang siapa
bertawadhu karena Allah maka Allah meninggikannya”. (Riwayat Abu Nu’aim,
dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Mengenai
hakikat tawadhu’ Imam Hasan Al Bashri menyampaikan,”Yakni ketika
seseorang kaluar dari rumahnya, maka ia tidak bertemu seorang Muslim pun
kecuali ia menyangka bahwa ia (yang dijumpai itu-pent.) lebih baik dari
dirinya sendiri (Az Zuhd karya Imam Ahmad, hal. 298).
Merujuk
dari Ibnu Al Athaillah, Al Allamah Al Munawi menyampaikan bahwa
tawadhu’ hakiki adalah tawadhu’ yang timbul dari persaksian akan
kebesaran Allah. Sehingga, tawadhu kepada manusia dengan berkeyakinan
bahwa dirinya besar, maka hal itu bukanlah tawadhu’, namun serupa dengan
takabur (Faidh Al Qadir, 6/141).
Walhasil,
barang siapa menginginkan diangkat oleh Allah maka hendaknya ia
bertawadhu’. Dan derajat ketinggian menyesuaikan dengan kadar perendahan
hamba.